Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea pada Ibu dengan Perawakan Sangat Pendek: Sebuah Laporan Kasus
DOI:
https://doi.org/10.34011/jks.v1i1.508Keywords:
Seksio sesarea, Anestesi spinal, Perawakan pendek, Bupivakain, Hemodinamika maternal, Anestesi obstetriAbstract
Latar Belakang : Perawakan ibu yang sangat pendek sering dinilai sebagai kondisi berisiko tinggi untuk anestesi neuraksial pada seksio sesarea. Kekhawatiran utamanya adalah penyebaran obat intratekal yang tidak terduga, terjadinya blok spinal tinggi yang tiba-tiba, hipotensi berat, serta kebutuhan kontrol jalan napas darurat pada ibu hamil yang secara fisiologis memang memiliki jalan napas yang lebih sulit. Sampai saat ini hampir tidak ada panduan praktis untuk pasien dengan tinggi badan <130 cm; sebagian besar pengalaman yang dipublikasikan masih berada di rentang tinggi sekitar 140–150 cm. Oleh karena itu, pelaporan penatalaksanaan yang berhasil pada kelompok antropometri ekstrem ini memiliki nilai klinis.
Presentasi Kasus : Kami melaporkan seorang primigravida berusia 27 tahun (tinggi badan 124 cm, berat badan 43 kg) usia kehamilan 38–39 minggu dengan janin tunggal letak lintang dan kecurigaan cephalopelvic disproportion, yang direncanakan untuk seksio sesarea. Penilaian praoperasi menunjukkan tanda vital stabil, jalan napas Mallampati II, hemoglobin 11,2 g/dL, trombosit 346×10³/µL, dan tidak ada komorbid jantung atau paru. Anestesi spinal sekali suntik dilakukan melalui pendekatan paramedian sela L4–L5 menggunakan jarum 27G. Sekitar 1,6 mL (~8 mg) bupivakain hiperbarik disuntikkan sangat perlahan dengan strategi dosis internal sekitar 0,06 mg/cm tinggi badan ibu. Setelah injeksi, pasien tidak langsung ditidurkan rata, tetapi diposisikan perlahan ke supinasi dengan penyangga untuk mengontrol penyebaran obat ke arah kranial. Blok neuraksial yang dihasilkan cukup untuk tindakan seksio sesarea selama 70 menit tanpa penambahan opioid intratekal, tanpa konversi ke anestesi umum, dan tanpa perlu vasopresor. Tekanan darah ibu bertahan di kisaran ~100–110/60–70 mmHg dan saturasi oksigen 99–100% dengan napas spontan udara ruang. Perkiraan perdarahan 400 mL. Bayi lahir dengan berat 2.890gr dan skor Apgar 7 dan 9 pada menit ke-1 dan ke-5. Pasien tetap sadar, stabil secara hemodinamik, bernapas spontan di ruang pemulihan, dan kemudian dipindahkan ke ruang rawat kebidanan biasa 34 menit setelah operasi.
Diskusi : Kasus ini menunjukkan bahwa perawakan tubuh yang sangat pendek saja tidak otomatis menjadi alasan untuk menolak anestesi spinal. Penyesuaian dosis yang dipersonalisasi, penyuntikan intratekal yang terkontrol, pendekatan paramedian, dan penataan posisi pasien secara bertahap dapat menekan derajat blok simpatis dan mencegah kolaps hemodinamik, sambil tetap mencapai blok sensorik torakal tinggi yang adekuat untuk prosedur seksio sesarea yang berlangsung lama.
Kesimpulan : Kasus ini menekankan pentingnya pendekatan anestesi spinal yang dipersonalisasi, termasuk penentuan dosis berdasarkan tinggi badan, penyuntikan intratekal perlahan, pengaturan posisi secara bertahap, serta kesiapan rencana cadangan jalan napas dan hemodinamik untuk menangani seksio sesarea secara aman pada ibu hamil dengan perawakan sangat pendek.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2020 Jurnal Kesehatan Siliwangi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

