PENGEMBANGAN COOKIES BERBASIS TEPUNG KACANG HIJAU DAN LABU KUNING UNTUK BALITA STUNTING
DOI:
https://doi.org/10.34011/jgd.v4i2.4288Keywords:
Stunted toddlers, cookies, mung bean flour, pumpkin flour, organoleptic testAbstract
Globally, approximately 149.2 million (22.2%) children under five years of age suffer from stunting. In Indonesia, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) reported a stunting prevalence of 30.8%. One nutrition intervention approach is the provision of supplementary foods utilizing local ingredients, including cookies. Cookies made from a combination of mung bean flour and pumpkin flour have the potential to serve as a high-protein and high-calcium snack for stunted toddlers. This study aimed to evaluate the effect of different flour proportions on the organoleptic properties and nutritional content of the cookies. An experimental design was applied using three formulations: F1 (50%:50%), F2 (60%:40%), and F3 (70%:30%). Organoleptic evaluation was conducted using a hedonic test involving 30 semi-trained panelists. The results showed no significant differences in color, aroma, taste, texture, and overall acceptability among the formulations (p > 0.05). Formula F2 was identified as the most preferred, with an overall score of 5.63. Laboratory analysis of the selected formula revealed a protein content of 11.2 g and a calcium content of 254 mg per 100 g. Further studies are recommended to improve crispness and conduct proximate analysis to enhance the accuracy of nutritional data.
References
1. Ahmad, M, dkk. (2024). Inovasi Makanan Biskuit Kacang Hijau dan Daun Katuk Sebagai PMT Dalam Pencegahan Stunting. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 7(1). 2621-7961.
2. AKG. (2019). Angka Kecukupan Gizi 2019. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
3. Arfiyanti, (2021). Cookies Untuk Mencengah Stunting. Jurnal Kimia Saintek dan Pendidikan. Volome 5 (2), Hal 121-132
4. Darmawati, dkk. (2024). Pengaruh waktu pemanasan terhadap protein pada susu. Journal of Medical Laboratory Tecnologi, Vol 1, No 2.
5. Fitri, R, dkk ( 2022). Program Pencengahan Stunting di Di Indonesia. Media Gizi Indonesia, 17(3);281-292 https://doi.org/10.204736/mgi.v17i3.281–292
6. Flora R, dkk. (2022). Kadar Protein dan Kalsium pada Cookies Hati Sapi dan Tepung Kacang Merah. Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang. Vol 17, No (2). DOI: https://doi.org/ 10.36086/jpp.v17i2
7. Gultom T, dkk. Analisis Kandungan Zat Gizi Cookies Substitusi Tepung Teri (Stolephorus cumersoni) Dan Daun Kale Sebagai alternatif Makanan Tambahan Balita Stunting. Biologi education science & tekchnology journal. Vol 7 (2) Hal. 1404-1410
8. Handayani, N, G, dkk. Pemanfaatan Susu Skim Sebagai Bahan Dasar Dalam Pembuatan Produk Olahan Makanan Tradisional Dangke Dengan Bantuan Bakteri Asam Laktat. 2 (2).
9. Hadina, dkk. (2022). Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting. 9(2). 176-184.
10. Hariadi, H. (2017). Analisis kandungan Gizi dan Organoleptik “Cookies” Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) Dan Brokoli ( Brassica oleracea L) dengan Penambahan Tepung Kacang Hijau ( Phaseolus radiatus L). Jurnal Agrotek Indonesia 2(2): 98-105 (2017).
11. Hermawan, D, dkk. (2023). Cookies Daun Kelor Sebagai Inovasi Makanan Pendukung Percepatan Penurunan Stunting. Malahari Nursing Journal. 5 (11). 4038-4047.
12. Kemenkes RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI. 2018;53(9):1689–99.
13. Kemenkes. (2020). Tabel komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2020.
14. Kemenkes RI. PETUNJUK TEKNIS Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbahan Pangan Lokal untuk Balita dan Ibu Hamil. Kemenkes [Internet]. 2022;(June):78–81. Available from: https://kesmas.kemkes.go.id/assets/uploads/contents/others/20230516 _Juknis_Tatalaksana_Gizi_V18.pdf
15. Kemenkes RI, & Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2022). Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022.
16. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018.
17. Kementrian Kesehatan RI, “SSGI 2024 Survey Status Gizi Indonesia Dalam Angka”
18. Lestari, A, T et al. (2022). Proses Pengolahan Telur Beku. Jurnal Pangan Halal 4 (1)
19. Nabila, dkk. (2023). Penyuluhan Pemanfaatan Kacang Hijau dan Daun Bayam Sebagai Produk Minuman Serbuk Herbal “BHESTI” dalam Upaya Pencegahan Stunting di Desa Way Galih, Lampung Selatan. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 6 (1).
20. Urufia N, O, W, dkk. Edukasi Pencegahan Stunting Melalui Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa oleifera) di SD Negeri 2 Nganganaumala. Jurnal Kolaborasi Sains. 7 (2).
21. Ridhoni A. Pemanfaatan Olahan Labu Kuning Untuk MPASI sebagai Pencengahan Stunting Anak Balita. Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia. Vol 2 (3). Hal 164-170. DOI: https://doi.org/10.59024/faedah.v2i3.990
22. Saadah Wulandari, R & Sinta Silvia. Modifikasi Labu Kuning ( Cucurbita Moshata ) pada Permen Gummy Jelly sebagai Camila Tinggi Protein dan Vitamin A untuk Anak Stunting. Amerta Nutrition Vol. 6 Issue 1SP (December 2022). 266-274.
23. Stefania Elsha. (2021). Pemanfaatan Labu Kuning ( Cucurbita moschata Duch) dalam Pembuatan Bolu Kukus Mekar. Jurnal Teknologi Pertanian Vol 12 (1).
24. Shinta S & Lestari D. (2023). Kualitas Cookies Berbahan Campuran Tepung Labu kuning. Jurnal Pariwisata dan Bisnis. 2(8). 1906-1913.
25. Suksesty, E, C, dkk. (2020). Efektifitas Program Pemberian Makanan Tambahan Menggunakan Kombinasi Jus Kacang Hijau Dan Telur Ayam Rebus Terhadap Perubahan Status Gizi Stunting Di Kabupaten Pandeglang. Indonesia Midwifery Journal. 3 (2). 258-3093.
26. Sugiarti, S. (2020). Karateriktik Dan Uji Organoleptik Selai Labu Kuning. Junral Pernian Agros Vol 22(1), Hal 22-29.
27. Utami, R & Zahra, T. (2020). Substitusi Tepung Labu Kuning pada Pembuatan Cookies Kastengel. Media Pendidikan, Gizi dan Kuliner. Vol 9 (2).
28. Masithah. (2023). Potensi Pangan Fungsional Sumber Vitamin C Dan Zink: Cookies Daun Kelor Dan Labu Kuning. Media Gizi Pangan 3 (30).
29. Yuliani, dkk. (2024). Karakteristik Organoleptik Cookies dengan Penambahan Bahan Baku Buah Labu Madu dan Tepun Daun Kelor. Pro-Stek Vol 6 No 2



